Minggu, 28 Oktober 2012, pagi-pagi aku dan bunda -panggilan @putrindawisty- udah siap-siap mau ke masjid kampus 3 UMM menjalankan kuliah ahad. Jarak menuju masjid terbilang dekat, jadi berangkatnya mepet-mepet jam 7. Tapi sesampainya disana, sepi. Berita setengah buruk dan setengah baik pun menghampiri. "Gak ada kuliah Ahad 3 minggu". Wwoww, "trus tau gitu aku tidur lagi" ngomel tuh bunda. Yasudahlah yaaa, anggep aja sedekah bangun pagi, hehe.
"Mau kemana il?"
"Terserah"
"Pasar minggu yuk."
"Iya deh"
Sesampainya di jalan ijen, ternyata kami harus jalan kaki menuju pasarnya. Awalnya terpaksa, tapi disyukuri pada tengahnya karena terhitung olahraga ringan. Dan pada akhirnya, sampai juga di pasar. Weww, 'kayak gini ternyata pasar minggu?' tanyaku dalam hati. Maklum, selama di malang belum pernah kesini, dan tiap diajakin kesini pasti gak pernah jadi. (-_-" ) Mungkin ini waktu yang tepat bagiku untuk ke pasar minggu, karena uang yang aku pegang pas-pasan, berarti aku gak bisa beli macem-macem. Alhamdulillah, "ojok boros!"
Rame, penuh, sesak, itu kesanku. Dimulai dari orang, barang, makanan, bahkan hewan, semua ada disini. Pantesan juga jalanan sepi, ternyata pada numpuk disini. Pada hari ini, bertepatan pula hari SUMPAH PEMUDA. "SEMANGAT PEMUDA" pun tergambar dari wajah-wajah yang hadir disini. Haha. Semoga jiwa-jiwa kami terus MUDA sampai tua. (˘ˬ˘ ∫ƪ)
Perjalanan kami pun baru dimulai. Jalan melihat barang-barang yang dijual di pasar pun berasa jalan tawaf di Ka'bah, karena harus sempit-sempitan dan pelan banget. Lihat barang dengan leluasa itu hanya impian. *lebay* Yaaaah lumayan sih yaa barang disini, cukup berkualitas dan harga terjangkau. (Anda berminat? Segera hubungi klinik Tongseng di dekat Anda *apa2an ini il?*) Banyak barang yang aku minati, tapi aku berusaha menahannya dengan menghela nafas panjang, aku harus bisa HEMAT ! Keperluanku esok hari akan lebih besar. Betul? Sesampainya di penjual hiasan kupu-kupu, kami tak kuasa menahan rasa untuk tidak membelinya. Dengan keikhlasan melepas uang 5 ribu perak, aku membeli hiasan garden kupu-kupu. Lucu. Dan sebenernya gak ada faedahnya. Tapi demi mempercantik kamar dan memuaskan hasrat jiwa wanita, aku rela. (¬,¬”)
Ampuni aku ya Allah.
Gak seberapa lagi kita berjalan, kami mendapati penjual kelinci yang sedang sibuk berbicara dengan para calon pembeli. "Ih unyu kelincinya, ini berapa, Pak?" "Itu 55 ribu, yang ini 25 ribu tapi kelinci biasa." "Oh" "Kamu mau beli il?"
"Iya, pengen melihara kelinci, tapi uangku? Apa beli yang 25 ribu ya?"
"Ya terserah."
"Kalo yang ini berapa, Pak?" tanyaku lagi pada penjualnya.
"35 ribu."
"Wah yang ini boleh juga," ungkapku dalam lubuk hati terdalam. Sungguh, aku pengen banget punya temen hewan peliharaan, dan aku pengen tau banget gimana tanggung jawabku terhadap hewan.
"Ini makannya apa, Pak?" tanyaku belum selesai sampai muka si bapak udah menunjukkan kegeramannya.
"Dikasih jagung halus itu, jangan dikasih makan sayur biar gak bau." Aku hanya mengangguk menerima informasi dari beliau. Emang dasar aku ini polos tanpa ada pertanyaan di kepalaku, "Kenapa bisa makan sayur bikin bau?Patofisnya seperti apa?" Gak ada sama sekali. Hampa ini kepala.
(˘_˘")
"Berapa harga makanannya, Pak?"
"Murah kok, cuma 5 ribu," sambil mengambil kantong dan memasukkan 2 kantong makanan dalam kantong plastik hitam itu.
WHAT? Aku belum bilang beli loooh, tapi si bapak udah main bungkus aja. Mungkin si bapak udah capek denger pertanyaanku. Hehe. Terpaksa deh aku untuk berhenti berpikir panjang 'beli atau tidak?!' Dan tentu jawabannya adalah BELI ! Bunda pun berbisik, "aku pengen juga na, tapi uangku tinggal 25, aku pinjem uangmu dong 10 ribu" "Ok" Akhirnya, kami membungkus 2 kelinci imut berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dengan senang, kami membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah, kami bermain-main dengan kelinci itu. Suwer. Kelincinya menggemaskan. Bisa deh dijadikan sebagai teman pelipur lara ~
"Murah kok, cuma 5 ribu," sambil mengambil kantong dan memasukkan 2 kantong makanan dalam kantong plastik hitam itu.
WHAT? Aku belum bilang beli loooh, tapi si bapak udah main bungkus aja. Mungkin si bapak udah capek denger pertanyaanku. Hehe. Terpaksa deh aku untuk berhenti berpikir panjang 'beli atau tidak?!' Dan tentu jawabannya adalah BELI ! Bunda pun berbisik, "aku pengen juga na, tapi uangku tinggal 25, aku pinjem uangmu dong 10 ribu" "Ok" Akhirnya, kami membungkus 2 kelinci imut berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dengan senang, kami membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah, kami bermain-main dengan kelinci itu. Suwer. Kelincinya menggemaskan. Bisa deh dijadikan sebagai teman pelipur lara ~
Subuh Selasa, kamarku terbuka lebar, dan cikundut
-nama kelinciku- masuk ke kamarku dan membangunkanku tepat jam 01.34 WIB.
Alhasil, aku melek dan aku masukkan cikundut ke kandangnya. Karena kandangnya
hanya berbahan kardus, dan tidak tinggi, kelinci itu bisa keluar dari kandang
sesuka hati mereka. Setelah itu, aku lanjut tidur. Aku anggep itu menggemaskan
karena menurutku, cikundut pengen main sama aku. Paginya, aku melihat cikundut
udah keluar lagi. Dia lari sana sini, gak bisa diem dan gak ada capeknya. (۳˚Д˚)۳
Aku yang harus siap-siap ke kampus, mengurus
cikundut terlebih dahulu. Namun, tak berlangsung lama, kenyataan pahit harus
aku alami. Aku harus berangkat ke kampus segera, dan dodolnya aku, aku
membiarkan kelinciku main di luar dan ku tinggal mandi. Karena kelinciku nakal
dan gak pandai diem, dia keluar dari pagar rumah dan berjalan ntah kemana.
Setelah aku siap berangkat ke kampus, aku sudah tidak mendapati cikundut di
halaman. Cuma ada mamundut -kelinci @putrindawisty- yang sedang sibuk makan
rerumputan. Aiiihhh, kelinciku mana???????!!! (۳˚Д˚)۳
Aku hanya bisa menghela napas dan
berharap dia kembali. Tapi, ternyata tidak.
Ya Allah, aku gak bisa mengurus kelinciku
dengan benar, maaf. Maafkan aku yang telah gagal menjaga titipan-Mu. Aku
kembalikan dia pada-Mu ya Rabb. Jaga dia dimana pun dia berada, ya Rabb. (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)
Aku sayang Cikundut, kelinciku sekaligus sahabat kecilku.
Walaupun hanya mengenal sebentar, tapi berasa udah dekeeeet aja. Hehe.
- INH -
hi
BalasHapus